Getas (TIDAK) Keras-Part 3

Minggu ke Dua: Bersantai di Bengawan Solo

Minggu ke dua PU PHL itu banyak nyantainya, apalagi kalau nyantainya di Bengawan Solo semakin syahdu. Kok bisa di Bengawan Solo?

Jadi begini ceritanya, pada minggu ke dua PU PHL kita dilepas ke desa-desa sekitar hutan. Dilepas bukan berarti kita tidak melakukan aktivitas apapun, melainkan kita mempunyai tugas yaitu inventarisasi tegakan, inventarisasi konservasi sumberdaya hutan produksi, serta inventarisasi sosial. Kelompokku mendapatkan lokasi di RPH Ngrawoh, Desa Nginggil. Kelompokku tidak sendiri, melainkan ada satu kelompok lagi yang akan tinggal bersama selama 5 hari dan mereka adalah kelompok 4.

Perjalanan dimulai setelah kami sarapan. It’s truck time! Bagian ini yang paling membuat Irma dan salah satu teman Irma selalu deg-deg an karena naik-turun truk itu menyusahkan hehe.. Kali ini truk yang kami tumpangi lebih longgar karena hanya berisi 4 kelompok sesuai tujuan masing-masing RPH. Perjalanan memakan waktu kira-kira 2,5 jam dari Kampus Getas. Kami tak lantas langsung tiba di desa, melainkan mampir dahulu di minimarket. Begitu senangnya raut wajah kami karena melihat peradaban dan sekaligus melihat minimarket dengan segala produk-produknya. Terlampau senangnya hingga kami lupa waktu dan sedikit lebay untuk membeli barang-barang yang ada. Irma masih ingat waktu itu Irma dan teman Irma membawa satu kantong kresek besar dan dipenuhi oleh makanan (maaf khilaf). Kemudian kami melanjutkan kembali perjalanan menuju desa Ngrawoh dan Nginggil. Sejauh mata memandang, di bagian kiri jalan membentang Sungai Bengawan Solo yang saat itu mulai mengering. Namun, yang paling Irma ingat adalah kondisi jembatan yang kami lewati saat itu lumayan mengerikan. Hanya terbuat dari susunan kayu-kayu dan begitu sempit. Tak jarang truk yang kami tumpangi berhenti sebentar untuk merapikan kondisi kayu di jembatan agar bisa dilewati. Saat melewati jembatan kayu tersebut dalam hati Irma selalu berdoa karena memang mengerikan.

S_8317004768223
Wajah senang bertemu minimarket

Pemberhentian pertama yaitu di desa Ngrawoh, ada dua kelompok yang turun dari truk sehingga truk pun semakin longgar. Desa yang Irma tinggali masih lebih atas jika dibandingkan dengan Desa Ngrawoh. Namanya saja Desa Nginggil (dalam Bahasa Jawa inggil berarti tinggi) jadi letaknya tinggi di atas. Sesampainya di Desa Nginggil kami langsung disambut oleh keluarga baru kami, yaitu sepasang suami-istri dengan anak gadisnya. Rumah yang kami tinggali ini lumayan asri dengan model rumah pampang berkayu. Yang pertama kali Irma dan teman-teman lihat adalah sinyal operator seluler, sayangnya di Desa Nginggil tidak ada sinyal sama sekali. Jadi, untuk teman-teman yang nantinya melaksanakan PU PHL di Desa Nginggil bersabar ya :). Kesedihan kami akibat tidak ada sinyal tidak berlangsung lama kok karena di depan rumah kami adalah balai desa yang mana terdapat akses Wi-Fi gratis yang dapat digunakan oleh masyarakat desa. Bukan maksud apa-apa kami ribut tidak ada sinyal, melainkan kami saat itu butuh sinyal untuk mengecek grup line karena semua info terbaru akan dibagikan lewat grup tersebut. Belum lagi kami harus mengirimkan data-data nantinya. Hari pertama di desa Nginggil kami lalui dengan banyak istirahat, menebus waktu tidur yang terbuang selama di Kampus Getas.

S_8317004936454
Foto Bengawan Solo di Tengah Perjalanan Menuju KPS

Hari-hari selanjutnya kami membagi tim kami menjadi beberapa kelompok sesuai tugas yang telah Irma sebutkan diawal tadi. Irma bersama 3 teman yang lain masuk dalam tugas invetarisasi konservasi sumberdaya hutan produksi. Secara umum tugas kami adalah mencari sungai yang nantinya ditentukan sebagai KPS (Kawasan Perlindungan Setempat). Kami membuat banyak sekali petak dan data yang harus diambil. Sehari tidaklah cukup untuk menyelesaikan tugas tersebut, kami menyelesaikan tugas tersebut dengan waktu dua hari.

Ketika kami kembali ke desa dan sudah selesai membersihkan diri, kepanikan pun muncul. Baik dari kelompokku maupun dari kelompok 4, hal ini karena ada sidak dari co-ass (asisten praktikum). Terdapat kepanikan kecil dan sesekali terdengar “Tallysheet mana tallysheet?” “Sudah lengkap belum datanya?” “Duh, kita masih dapat segini” “Nanti kalau ditanyain gimana?”. Kami mencoba tenang dan sesekali menjawab pertanyaan co-ass dengan candaan kecil agar mencairkan suasana. Sidak telah usai, malamnya kami melakukan inventarisasi sosial dengan mendatangi rumah-rumah warga sekaligus kami bersilaturahmi pada lingkungan sekitar. Kebanyakan mereka yang tinggal di Desa Nginggil adalah para manula, sedangkan untuk usia produktif lebih memilih merantau. Hampir setiap malam kami melakukan inventarisasi sosial, tak jarang kami disuguhi makanan dan minuman yang merupakan bonus tersendiri bagi kami.

Kembali lagi ke masalah sinyal yang sangat sulit, hal ini membawa dampak positif bagi kami. Setiap malam setelah selesai inventarisasi sosial kami berkumpul untuk bercanda bersama, ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, bahkan tak jarang kami makan mie bersama namun yang memasak adalah para lelaki dan yang perempuan tinggal menikmati. Itulah cara kami menghibur diri dari keterbatasan yang ada. Disitu pula lah kehangatan mulai terbentuk, menikmati indahnya bintang malam bersama teman senasib sepenanggungan hehehe..

S_8317005231724
Bonus diurut Setelah Selesai Invent Sosial
S_8317005079880
Menjalin Kehangatan di Tengah Keterbatasan

Dihari-hari terakhir kami berada di desa Nginggil dengan waktu santai yang lebih banyak teman Irma pun nyeletukYuk ngechill yuk di Bengawan Solo, pokoknya jangan di rumah takut ada sidak lagi!” (Pingin santai tapi takut sidak. Ada!!!). Kelompok 4 memutuskan untuk pergi ke Bengawan Solo, nge-chill katanya :p. Sementara kelompokku dengan PDnya mengerjakan data di balai desa, optimis tidak ada sidak lagi dan memang benar tidak ada sidak yes… Setelah pulang dari Bengawan Solo beberapa temanku memamerkan foto-foto saat naik perahu ke RT sebelah. Melihat foto-foto tersebut, hasrat nge-chill Irma mulai muncul dan keesokan harinya aku bersama 3 temanku bangun pagi-pagi demi naik perahu keliling Bengawan Solo. Pagi itu masih dingin dan terlihat kabut masih menyelimuti Bengawan Solo, namun tidak menyurutkan niat kami untuk mengelilingi sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut. Hanya dengan Rp 10.000,00 kami dapat mengelilingi Bengawan Solo dengan waktu 15 menit. Tak lupa Irma juga berfoto ria, tak ingin kehilangan sedikit momen selama di Bengawan Solo.

S_8326524329706
Aku dan Bengawan Solo

Hari kelima merupakan hari terakhir Irma dan teman-teman berada di desa Nginggil. Tepat pukul 08.30 WIB kami dijemput oleh truk untuk kembali ke Kampus Getas. Banyak kenangan yang telah kami rajut di desa Nginggil. Kenangan bersama keluarga yang sangat perhatian dan peduli dengan kami, kenangan saat bersenda-gurau bersama, manis pahitnya saat mengambil data, dan kenangan-kenangan lain yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Terimakasih untuk 5 harinya desa Nginggil 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s