“The Real” Mahasiswa Kehutanan

Selamat tahun baru 2018!! (Pembukaan dulu :P)

Hai, penikmat blog Irma! Yaps, kali ini Irma akan membagikan cerita tentang “kepusingan” yang ditulisan sebelumnya pernah saya singgung. Kepusingan itu adalah mengenai praktikum mata kuliah Riset dan Manajemen Satwa Liar atau sering disingkat dengan RMSL. Kenapa pusing? Bagaimana suka-dukanya? Yuk, baca kelanjutannya….

  1. Manusia dengan sifat yang beragam

Pembagian kelompok ini menurut saya pribadi benar-benar acak dan menurut saya pembagian teradil sepanjang praktikum yang saya sudah lakukan. Dimana orang-orangnya benar-benar baru alias belum pernah se-tim sebelumnya, dan percaya gak percaya tiap kelompok memiliki anggota dengan sifat yang berbeda-beda. Jadi, selama kurang lebih 3 bulan kita harus beradaptasi dan mau tidak mau harus saling mendekatkan diri agar kelompok tetap kompak.

  1. Tiga judul penelitian dalam waktu singkat

Kami memulai rangkaian praktikum ini setelah UTS dan otomatis alokasi waktu pun singkat. Tiga judul penelitian pun kita kebut, dan FYI topik dari ketiga judul tersebut meliputi restorasi Rusa Jawa, herpetofauna, dan mengenai burung. Sebenarnya dari waktu yang singkat tersebut ada sisi positif yang kita dapat yaitu kita benar-benar berpikir kritis mengenai topik tersebut, kita dipacu untuk menjasi seorang peneliti yang hebat. Setelah menemukan judul lalu kita membuat logframe yaitu semacam kerangka pemikiran untuk lanjut ke step berikutnya. Nah, sisi negatifnya pun muncul waktu istirahat tersita bahkan sampai jarang tidur dan sering marah-marah gak karuan.

  1. Ganti judul setelah konsul

Jadi setiap selesai konsul proposal serta laporan dan acc ke asisten dosen, ritual selanjutnya adalah konsultasi ke dosen pembimbingnya langsung. Yaps, hal tersakit sepanjang semester 5 (lebay) ini adalah ketika kita sudah menyusul topik penelitian tapi dosen pembimbing menyarankan untuk ganti judul dan itu terjadi di kelompok kami. Padahal esoknya kami harus seminar proposal dan ambil data di lapangan. Parahnya lagi setelah seminar hasil otomatis ada revisian mengenai laporan penelitian kami dan laporan herpetofauna kelompok kami ganti judul 100%. It’s okay, untung kami kerja kelompok.

IMG_9572.JPG

  1. Weekend di Wanagama

Setiap Jumat hingga Minggu bergantian antara shift 1 dan shift 2 kami menginap di Wanagama untuk keperluan seminar proposal dan pengambilan data. Setelah selesai seminar proposal tak lantas kami langsung tidur tapi dilanjutkan dengan juknis untuk kegiatan lapangan. Tahan ngantuk ya Ir hihihi…. Keesokan harinya kami berangkat ke tiap petak yang ada di Wanagama. Kelompok saya mendapatkan petak 16, jangan bayangkan saat pengambilan data kita selalu didampingi asisten dosen. Untuk mengetahui jalan mana yang harus ditempuh kita dibekali GPS dan peta Wanagama. Setiap jam 09.00 WIB, 12.00 WIB dan jam 15.00 WIB kita harus memberi kabar pada asisten dosen berada pada koordinat berapa dan kondisi kelompoknya bagaimana.

Untitled-1.jpg

Untitled-3.jpg

  1. Wanagama bukan kebun

Jika kalian berpikir bahwa praktikum ini dilakukan di Wanagama dengan tempat yang menyerupai kebun, salah besar!! Kami melihat sisi lain dari Wanagama yang benar-benar hutan. Jika kita masuk lebih dalam ke area Wanagama, kita akan melihat berbagai fauna yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya ada di Wanagama. Pada hari pertama kami agak kesusahan karena belum mengerti medan, dan ditambah lagi secang yang super mantab. FYI, dari 6 anggota kelompok kami dua diantaranya adalah laki-laki dan sisanya perempuan-perempuan kuat hihihi. Pasalnya selama di lapangan, yang membuka jalan dengan membawa parang adalah perempuan yaitu temanku Egik namanya, lalu untuk menghindarkan secang dari badan kami aku dan Ajeng menggunakan tongkat seadanya dan tentunya menggunakan kaki.

Jadi di lapangan kami benar-benar harus sabar, sabar menghadapi medan dan juga sabar menghadapi laki-laki kelompok kami. Bagaimana tidak, disuruh membuka jalan yang ada malah mengeluh “Aku kalau siang sedikit sudah capek gak semangat.” Rasanya ingin berkata kasar (sudah-sudah Ir, sudah berlalu kok). Hari-hari berikutnya kami mulai memahami kondisi petak kami, dan syukurlah kami tidak perlu kembali ke Wanagama untuk meneruskan mengambil data.

Untitled-2.jpg

  1. Seminar hasil dengan segala bayangan yang “horror”

Setelah menyusun laporan, tiap kelompok tentunya diwajibkan untuk mempresentasikan hasil yang didapat sesuai dengan judul penelitiannya. Dengan segala kemumetan dan ditambah bayangan-bayangan mengenai suasana seminar hasil yang bakal dibantai habis-habisan oleh asisten dosen maupun dosennya sendiri, kami makin berusaha semaksimal mungkin tapi ada waktunya kita juga benar-benar pasrah. Mood kami memang naik turun jadi dengan baying-bayang horror tersebut kadang membangkitkan semangat kadang malah benar-benar pasrah. Sampai pada hari yang ditunggu-tunggu, ya memang kami ditanyai dengn detail oleh asisten dosen dan dosen tapi bayangan kami yang “horror” itu tadi tidak semuanya benar 100%. Intinya adalah jangan dibawa tegang dan tetap fokus. Dalam presentasi seminar hasil ini dibagi siapa yang menjadi presentator, operator, dan penjawab. Jadi, perlu persiapan agar semua siap jika harus menjadi presentator, operator maupun menjadi penjawab.

Oh iya FYI aja ya, selain laporan kelompok juga ada laporan individu berupa jurnal dari ketiga topik tersebut. Tidak terlalu ribet kok, karena ini berdasarkan pemikiran atau perspektif individu. Jadi, saya pikir lebih ringan karena menurut saya menyatukan pemikiran banyak orang itu lebih sulit. Setelah itu masih ada responsi, nah ada cerita lucu sekaligus menjengkelkan nih dari kelompok Irma. Untuk syarat memasuki ruang responsi tiap anggota kelompok harus membuat jurnal individu yang sudah dijilid dengan sampul warna merah dan tinta emas. Entah kenapa telinga ketua kelompok Irma sepertinya belum dibersihkan 1 bulan atau bagaimana, sehingga dia menjilid dengan mika warna merah dan tinta hitam. Otomatis kelompok kami tidak boleh masuk sebelum dia membenahi jurnal individunya, dan saat-saat genting seperti itu sempat-sempatnya kelompok kami bertengkar. Bukan bertengkar dengan adu mulut, melainkan diam-diaman antara satu orang dengan orang yang lain sambil pasang raut muka yang galak. Akhirnya kami diperbolehkan masuk dan mengikuti responsi.

Setelah selesai responsi kami benar-benar bahagia, bahkan saling berpelukan dan saya pun sampai meneteskan air mata. Bahagia karena perjuangan kurang lebih 3 bulan ini telah selesai, dan yang membuat saya terharu adalah bisa melakukan hal tersebut bersama teman-teman sekelompok saya dengan diwarnai marah-marah, canda-tawa, masuk hutan yang tidak tahu medannya, momen dimana kita minum air sungai karena kehabisan persediaan air dan momen makan jambu sepuasnya. Melalui praktikum ini pula saya benar-benar merasakan menjadi mahasiswa kehutanan yang sesungguhnya yang dituntut tangguh di lapangan dan juga cekatan dalam pemikiran.

IMG_0254.JPG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s