Praktek Tipe dan Pemanfaatan Hutan (KL)

KL Asyiikkk…

Hai.. hai.. maaf Irma lama tidak muncul di wordpress nih, maklum Irma baru saja pulang dari Banyuwangi. Ada tugas negara (sebenarnya karena ada praktek lapangan) hihi🙂. Praktek lapangan ini sering disebut KL atau kuliah lapangan. Namun, nama sebenarnya adalah praktek tipe dan pemanfaatan hutan.

Ir, apa itu praktek tipe dan pemanfaatan hutan?

Praktek tipe dan pemanfaatan hutan merupakan mata kuliah wajib fakultas bagi mahasiswa S1 kehutanan yang dilakukan setiap akhir semester II dengan bobot 1 SKS dan ada prasyarat mata kuliah yang harus lulus yaitu fitogeografi, ilmu tanah hutan dan ekologi hutan. Intinya praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi, memahami dan menjelaskan berbagai macam tipe ekosistem hutan dan bagaimana cara mengelolanya. KL ini dilaksanakan pada tanggal 9 sampai 11 Agustus 2016 di Jawa Timur, tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo, Cagar Alam Kawah Ijen dan di KPH Bondowoso.

Kegiatan apa saja yang kamu lakukan di sana Ir?

Baiklah kita mulai dari awal, karena KL dimulai tanggal 9 Agustus maka kami berangkat dari Jogja tanggal 8 pukul 07.00 WIB menggunakan kereta api. Kira-kira perjalanan memakan waktu 14 jam, pukul 21.00 WIB kami tiba di Banyuwangi lalu melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Alas Purwo menggunakan bus DAMRI. Kami tiba di TNAP pukul 01.00 dan langsung beristirahat di Trianggulasi.

  1. VEGETASI PANTAI

Hari pertama praktikum dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, dilakukan pengamatan pada vegetasi pantai. Lokasi berada di Pantai Trianggulasi. Langkah awal yang dilakukan adalah membuat petak ukur 20 x 20 m sebagai tempat yang akan dijadikan pengamatan. Di PU yang telah kelompok kami buat terdapat 5 pohon dengan tinggi yang berbeda-beda. Jenis yang ada pun juga berbeda, diantaranya Barringtonia asiatica, pandan laut, Calophyllum inophyllum, Terminalia catappa, dan juga ditemui rumput lari. Dalam praktikum kami juga mengidentifikasi tanah, dengan hasil bahwa pasir pantai berasal dari bahan induk karang, teksturnya pasiran dan kadar garam atau salinitasnya tinggi. Pemanfaatan secara riil pantai ini adalah hanya sebagai jasa lingkungan atau konservasi untuk penyangga kehidupan.

  1. HUTAN HUJAN TROPIS DATARAN RENDAH SELALU HIJAU

Pada hutan hujan tropis dataran rendah selalu hijau ini kondisi penyusunnya lebih rapat, terdapat liana dan epifit, anakan atau semai pada tempat ini banyak karena kondisi habitat yang mendukung. Flora yang ada adalah bendo, bayur, mahoni, macaranga dan rotan. Jenis tanah pada hutan ini adalah Inceptisol yang mengalami pembaharuan, semakin ke bawah kadar lempung semakin sedikit. Bahan induk tanah ini berupa pasir dengan kisaran presentase penutupan seresah 70% sampai 80% dan rerata ketebalan seresah 1,3 cm. Pemanfaatan riilnya hanya sebagai fungsi konservasi/lingkungan, hanya terbatas pemanfaatannya karena ada pembagian zona yang tidak boleh semua dimanfaatkan dan dijumpai jalan sebagai penghubung ke arah Pantai Trianggulasi dan Pantai Plengkung.

  1. VEGETASI PAYAU

Setelah selesai pengamatan di hutan dataran rendah selalu hijau, kami melanjutkan perjalanan ke hutan payau yang tentunya ditempuh dengan jalan kaki. Meskipun jarak antar lokasi satu ke lokasi yang lain lumayan jauh, namun jika dilakukan bersama-sama tidak akan terasa lelah J. Pukul 13.30 WIB kami mulai melakukan pengamatan, namun bedanya di tempat ini kami tidak membuat PU dikarenakan lokasi yang tidak memungkinkan. Vegetasi yang mendominasi tempat ini adalah Nypa fruticans. Selain itu juga ada Hibiscus tiliaceus dan Derris heterophylla. Keunikan dari nipah ini adalah batang pokoknya terendam air. Iklim disini selalu basah karena air yang terus menggenang. Jenis tanah di hutan payau terbentuk dari hasil sedimentasi dari erosi yang terbawa oleh air sungai dan terbentuk di muara. Hutan ini hanya memiliki fungsi ekologis, karena tidak ada aktifitas apa pun di tempat ini.

Kegiatan selanjutnya adalah bakti calon rimba, yaitu kami mahasiswa kehutanan melakukan kegiatan bersih pantai sehingga kami menyusuri sepanjang pantai Trianggulasi hingga kembali ke penginapan. Di sepanjang perjalanan tak lupa kami menyempatkan foto bersama sembari memungut sampah dan menikmati deburan ombak pantai.

  1. PADANG PENGGEMBALAAN SADENGAN

Hari kedua di TNAP kami melalukan pengamatan di padang penggembalaan Sadengan, jarak dari penginapan ke lokasi tersebut adalah kurang lebih 1,5 km dan kami tempuh dengan berjalan kaki. Di tempat ini kami hanya mengamati kondisi padang penggembalaan yang disana terdapat banteng, rusa dan burung merak selebihnya kami mendengar penjelasan dari dosen mengenai keadaan di padang penggembalaan tersebut. Di tengah-tengah perjalanan menuju padang penggembalan tak jarang kami menjumpai merak dan kera ekor panjang yang tak sengaja lewat untuk mencari makan.

  1. HUTAN TANAMAN MAHONI DI DATARAN RENDAH

Perjalanan pun dilanjutkan untuk mengamati hutan tanaman mahoni di Rowobendo. Berdasarkan PU yang telah dibuat, terdapat 10 pohon, herba dengan jumlah yang tergolong banyak, liana yang jumlahnya sedang dan talofit atau lumut yang juga sedang. Dalam PU yang dibuat tidak terdapat semai dan tiang, namun terdapat 4 sapihan atau pancang. Flora yang dapat ditemui selain mahoni adalah Cembirit, Cassia siamea, Samanea saman, Wegil dan Johar. Kenyataan yang ditemui di lapangan menyatakan bahwa hutan tanaman ini sudah menyerupai hutan alam, campur tangan manusia disini kurang nampak, tumbuhan disini tidak monokultur tetapi terdapat tumbuhan lain yang sudah disebutkan di atas dan tajuknya sudah mulai multi strata. Kisaran presentase penutupasn seresah yaitu 80% sampai 90% dan rerata ketebalan seresah 1,5 cm. Jenis tanah pada hutan ini adalah Inceptisol namun lebih berkembang, tedapat bahan organik di horison I dan II. Pemanfaatan riil daerah ini hanya digunakan sebagai penelitian, karena di area ini dijumpai plot-plot pengamatan.

  1. HUTAN MANGROVE

Setelah selesai melakukan pengamatan di hutan tanaman maka kami berjalan sedikit menuju hutan mangrove. Jalur yang dilalui cukup sulit karena tanah yang dilewati berlumpur, tergenang air dan licin maka dianjurkan untuk menggunakan sepatu boots. Dijumpa berbagai macam flora disini yaitu Xylocarpus granatum, Buguiera sp., paku werakas dan Rhyzophora sp. ada yang unik dari akar masing-masing tumbuhan ini yaitu terdapat akar lutut, akar papan dan akar jangkar. Di lkasi ini kami hanya mengamati berapa jumlah pohon dalam 1 PU, dan kami menemukan 3 pohon. Tanah di hutan mangrove ini adalah tanah Alluvial. Tanahnya berlumpur kaena adanya faktor air yang menggenang. pH tanah ini basa karena salinitasnya tinggi. Ditinjau dari sifat biologisnya terdapat lubang-lubang pada tanah ini yang dibuat oleh organisme yang dapat membantu proses pedoturbasi. Pemanfaatan riilnya adalah untuk pemancingan.

Pengamatan hari ke dua telah usai, lalu kami kembali ke penginapan untuk bersiap-siap perjalanan ke Cagar Alam Kawah Ijen. Pukul 17.00 WIB kami pergi meninggalkan lokasi penginapan TNAP dan bergegas menuju Ijen. Sekitar pukul 20.30 WIB rombongan sampai ke pintu masuk Kawah Ijen, namun disini kami ganti bus yang lebih kecil. 1 bus dapat diisi sekitar 25 orang, aku lalu bergegas naik dan berangkat ke lokasi tujuan. Namun, sialnya di separuh perjalanan bus yang aku tumpangi mati karena tidak kuat untuk menaiki tanjakan. Lalu kata sopir bus, kami disuruh turun untuk jalan terlebih dahulu. Kami mulai panik, pasalnya itu kondisi malam, benar-benar gelap dan udara sangat dingin. Parahnya ketika kami mencoba menghubungi dosen dan teman-teman lain yang masih di bawah tidak membuahkan hasil karena tidak terjangkau sinyal. Kami mencoba menenangkan diri, akhirnya bus dapat hidup lagi tapi kami tidak melanjutkan perjalanan ke atas melainkan kembali turun ke pintu masuk. Hari sudah semakin malam, hujan pun turun sembari kami mennggu bus lain dan akhirnya bus yang ditunggu pun datang sehingga kami dapat sampai ke Cagar Alam Kawah Ijen dengan selamat, Puji Tuhan….

  1. HUTAN HUJAN TROPIS PEGUNUNGAN RENDAH

Hari itu merupakan hari ketiga kami di Banyuwangi, sungguh suhu semalam sangat dingin hingga menembus 8°C dan pagi hari pun masih saja dingin. Namun tidak mematahkan semangat kami untuk melanjutkan pengamatan, pengamatan kali ini dlakukan di kawasan Cagar Alam Kawah Ijen, tepatnya di hutan hujan tropis pegunungan rendah. Untuk mencapai lokasi pengamatan kami harus berjalan dan membuat jalan baru karena lokasinya yang berada di ketinggian 1800 mdpl. Sepanjang perjalanan yang tercium adalah bau belerang, maklumlah karena memang lokasinya di sekitar Kawah Ijen. Pada PU yang telah dibuat, ditemukan pohon sebanyak 6, tiang 3, sapihan 2 dan tedapat banyak lumut serta liana. Vegetasinya didominasi oleh paku-pakuan yang menyerupai pohon dan herba kerinyu. Flora lain yaitu cemara gunung dan condong lawe. Pada tempat ini pohon raksasa hampir tidak ditemui karena pengaruh topografi, suhu yang rendah dan faktor adanya kabut sehingga panas matahari tidak diterima maksimum. Jenis tanah pada hutan ini adalah Andosol yang masuk dalam ordo Andisol yang berarti hitam atau kelam. Bahan induk tanah ini berupa material vulkanik hasil letusan gunung berapi. Hutan ini memiliki fungsi ekologis, sebagai balai konservasi.

1471149841934147114971557814711496190881470995906025

Setelah pengamatan selesai kami melanjutkan perjalanan ke KPH Bondowoso dengan menaiki truk, di sepanjang perjalanan kami disuguhi deretan alam yang indah dari air terjun yang berjuluk air terjun Pait, bukit-bukit indah hingga Kawah Ijen purba. Selain itu juga ditemui satwa seperti Lutung Jawa. Kami lalu berhenti di kawasan hutan yang disitu ditanami juga dengan kopi dan pengamatan terakhir kami lakukan di hutan pinus RPH Sukorejo. Praktikum telah usai lalu kami kembali melanjutkan perjalanan ke Jember untuk pulang kembali ke Jogjakarta. Begitlah cerita yang dapat aku sampaikan, masih banyak prektikum-praktikum lain yang menunggu yang tentunya dengan tantangan-tantangan yang berbeda pula. Saran saja dari Irma untuk pengelola TWA Ijen, karena Ijen merupakan destinasi wisata internasional alangkah baiknya jika sarana prasarana yang ada dimaksimalkan seperti toilet yang seharusnya airnya ada setiap saat sehingga wisatawan baik dari dalam ataupun luar negeri nyaman saat berkunjung ke lokasi tersebut🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s