Pergeseran Iklim: Fakta di Lapangan, Adaptasi dan Mitigasi

Bumi merupakan tempat bagi segala jenis makhluk hidup melangsungkan kehidupannya. Namun seiring berjalannya waktu nampaknya bumi telah berubah yaitu berubah pada iklimnya dari yang dahulu masih nyaman banyak hasil tangkapan ikan, hasil panen yang melimpah sehingga kebutuhan masyarakat khususnya bisa terpenuhi.

Pada mulanya sinar matahari yang dipancarkan ke bumi dipantulkan kembali ke atmosfer namun cahaya tersebut ditahan oleh atmosfer hal tersebut yang kita kenal sebagai gas-gas rumah kaca, gas-gas inilah yang akan menimbulkan efek rumah kaca dimana gas yang paling banyak jumlahnya adalah gas Carbon. Jumlah gas Carbon ini mulai diketahui meningkat pada abad 19 dan apabila peningkatan ini terus terjadi maka akan menambah parah perubahan iklim di bumi.

Contoh peristiwa nyata yang menyebabkan emisi Carbon meningkat yaitu pemakaian minyak bumi, kegiatan penambangan dan pemakaian batu bara, pabrik industri semen, pembakaran kayu dan hutan, pengeringan gambut sekaligus pembakaran lahan gambut. Penyumbang emisi Carbon lainnya adalah gas Metana, meskipun jumlahnya dialam tidak sebanyak Carbon tetapi jika dikonversikan setiap 1 kg Metana setara dengan 21 kg Carbon.

Pada saat siklus Carbon berlangsung, terjadi emisi bahan bakar dan fosil dengan jumlah 5,5 Gton per tahun dan pada saat proses penguapan di laut hanya 2,5 Gton per tahun saja yang dapat dilepaskan maka masih ada sisa 3 Gton per tahun yang belum dilepaskan sehingga mengakibatkan naiknya temperatur di bumi. Naiknya temperatur dan berubahnya iklim di bumi ditandai dengan berubahnya curah hujan, cairnya es di kutub utara dan selatan. Untuk di Indonesia sendiri pergeseran musim ditandai terjadinya musim kemarau yang lama dengan begitu teriknya dan musim hujan yang singkat namun dengan intensitas yang besar sehingga mengakibatkan banjir.

Diprediksikan permukaan air laut akan meningkat dalam kurun waktu 100 tahun, apabila pergeseran iklim terus terjadi. Bahkan akan menenggelamkan pulau-pulau, seperti pulau Jawa dan sebagian pulau di wilayah Kalimantan, terjadi pula penyebaran wabah penyakit demam berdarah dan malaria, mengeringnya sumber air, terjadi perubahan sosial, budaya dan populasi.

Pemaparan langsung dari masyarakat diwakili oleh nelayan dan petani. nelayan mengungkapkan bahwa dahulu hasil tangkapan ikan sangat banyak namun sekarang tidak demikian, penyebabnya adalah pada tahun 1966 hingga tahun 1970 an mengaami pergeseran angin. Sedangkan dampak pergeseran iklim yang dirasakan petani adalah gagal panen, tanah gersang, air yang semakin langka, banyaknya hama yang merusak tanaman, kondisi panas yang ekstrem dan sulit menentukan masa awal tanam.

Dari ungkapan tersebut maka terjadi adaptasi dimana pada nelayan adaptasi dilakukan dengan membuat perahu yang lebih tinggi, membuat tanggul dan pada saat gelombang tinggi mereka beralih profesi menjadi penangkap rajungan. Adaptasi yang dilakukan petani adalah dengan merubah pola tanam yaitu menanam padi dengan umur tanam yang pendek untuk mengantisipasi kekurangan air. Lalu juga menggunakan sistem pertanian berkelanjutan, dimana setiap 100 m2 lahan diisi oeh hewan ternak seperti ayam dan kelinci, lalu pada lahan dengan luas 200m2 untuk budidaya sayuran, dan 100 m2 lainnya untuk kolam ikan.

Adaptasi lain dilakukan dengan sengkedan untuk mengurangi sekaligus mengantisipasi tanah-tanah miring. Cara lain adalah mitigasi dengan cara efisiensi energi yaitu menggunakan energi alternatif, penanaman kembali atau reboisasi untuk mengurangi gas Carbon. Mengurangi penggunaan listrik, pendingin dan kantong plastik. Pemilahan sampah organik dan anorganik dimana sampah organik dapat dijadikan pupuk yang dapat membantu proses tumbuh dan berkembangnya tanaman. Cara yang lebih luas lagi adalah diadakannya konverensi PBB di tingat internasional dimana untuk menentukan langkah mengurangi perubahan iklim serta laju deforestasi dunia.

Di perkotaan seperti Jakarta masyarakatnya memiliki strategi guna mengurangi perubahan iklim yaitu dengan bersepeda ke kantor hal ini dilakukan karena kadar udara di Jakarta sangat buruk.

Dari uraian tersebut maka perlu dilakukan upaya untuk menanggulangi perubahan iklim yang telah terjadi dengan dua kunci utama. Yaitu dengan mitigasi dan adaptasi, maksudnya adalah dengan mitigasi kita dapat mencegah, menghentikan, menurunkan, atau setidaknya membatasi pelepasan emisi gas rumah kaca di atmosfer, upaya ini dapat dilakukan dengan menambah, memperkuat atau memperluas sistem bumi yang berupa hutan dan lautan. Tujuan utama dari upaya mitigasi sebenarnya untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca, dan dapat dilakukan dengan menerapkan sistem ekonomi, transportasi, dan pola pembangunan rendah karbon sehingga penggunaan batu bara dan gas bumi bisa dikurangi dan digantikan oleh energi terbarukan. Sedangkan untuk adaptasi merupakan upaya untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan yang terjadi karena tidak mungkin kita mengembalikan secara utuh 100% keadaan yang telah terjadi. Pada negara berkembang seperti di Indonesia ini bentuk adaptasi harus terintegrasi dengan penanggulangan kemiskinan dan kekurangan gizi akibat pergeseran iklim yang mengakibatkan kekeringan atau pun banjir yang besar. Sebenarnya besar tidaknya laju pergeseran iklim akan bergantung pada diri kita masing-masing, apabila tidak ada aksi nyata dan rasa peka untuk merubah pola perilaku kita maka pergeseran musim akan membawa kita pada kehancuran alam dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s