Upaya Penerapan Penanaman Jati (Tectona grandis) dengan Cabai (Capsicum annum) Berbasis Sistem Agroforestri Sederhana dalam Rangka Mengembalikan Fungsi Hutan Kemasyarakatan Kesamben

Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang besar peranannya bagi kehidupan. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat membawa konsekuensi terhadap peningkatan sektor kebutuhan hidup termasuk akan kebutuhan pangan dan kayu. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan penduduk dalam sektor tersebut mendorong untuk dibukanya lahan untuk kegiatan industri dan pertanian. Tidak memungkinkan hal tersebut menyebabkan kritisnya hutan masyarakat akibat perubahan fungsinya. Hutan Kemasyarakatan adalah hutan negara yang sistem pengelolaannya bertujuan memberdayakan masyarakat setempat tanpa mengganggu fungsi pokoknya (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001). Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Blitar 2005-2025, lahan kritis di kabupaten Blitar hingga tahun 2015 belum ditangani dengan tuntas. Data Analisis Indikator Makro Provinsi Jawa Timur 2005 juga mengungkap pada tahun 2005 menunjukkan angka presentase penduduk miskin kabupaten Blitar sebanyak 166.354 jiwa.   Potensi hutan di kabupaten Blitar sendiri sebagai hutan rakyat belum teralokasi secara tepat, salah satunya adalah hutan jati (Tectona grandis) Kesamben. Permasalahan ini menimbulkan ide bagi penulis untuk mengatasi agar hutan rakyat Kesamben mampu mengatasi permasalahan masyarakat setempat.

Apa upaya yang tepat sebagai langkah untuk menangani hutan kritis Kesamben?

Hutan Kesamben merupakan salah satu potensi alam yang tergolong dalam hutan kritis. Keadaan ini muncul sebagai dampak aktivitas masyarakat yang lebih mementingkan kebutuhan individu. Sebagian lahan hutan jati (Tectona grandis) telah ditebang dan dieksploitasi untuk kepentingan pribadi. Hal ini hanya akan berdampak buruk bagi jumlah kemiskinan di kabupaten Blitar akibat dari sempitnya lapangan pekerjaan, serta merusak struktur tanah yang memungkinkan terjadi longsor karena tidak ada tumbuhan yang menyetabilkan kondisi tanah dalam fungsi penyerapan. Hutan Kesamben saat ini hanya fokus pada tumbuhan jati (Tectona grandis), dalam hal ini hanya mementingkan sektor produksi kayu. Sementara itu, hutan Kesamben memiliki potensi besar untuk menangani masalah dari berbagai sektor selain dalam pemenuhan kebutuhan kayu. Pemanfaatan yang tepat adalah sistem agroforestri sederhana dengan memadukan pohon jati (Tectona grandis) dan tanaman cabai (Capsicum annum) dalam satu lahan. Tanaman dapat menyetabilkan kondisi tanah untuk mengantisipasi perubahan kepadatan tanah yang berpotensi penyebab terjadinya longsor. Tanaman cabai (Capsicum annum) cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang, serta tidak tergenang air, pH tanah yang ideal sekitar lima sampai enam (Harpenas, 2001). Syarat ini cocok dengan kondisi yang dimiliki hutan Kesamben. Tanaman cabai (Capsicum annum) juga tanaman yang ekonomis dari segi perawatan, dan mempunyai nilai jual yang fluktuatif. Cara penanggulangan lahan kritis tersebut dapat mengatasi permasalahan masyarakat di kabupaten Blitar untuk mencukupi kebutuhan kayu dan membuka lapangan pekerjaan dengan pemanfaatan petani cabai (Capsicum annum).

Apa itu agroforestri?

 Agroforestri adalah nama kolektif untuk sistem teknologi penggunaan lahan di mana tanaman keras berkayu (pohon, semak, kelapa, bambu, dan lain-lain) yang sengaja digunakan pada unit pengelolaan lahan yang sama sebagai tanaman pertanian dan/atau hewan, dalam beberapa bentuk penataan ruang atau urutan temporal. Dalam sistem agroforestri terdapat interaksi baik interaksi ekologis dan ekonomis antara berbagai komponen. Definisi ini berarti agroforestri melibatkan dua atau lebih spesies tumbuhan (atau tumbuhan dan hewan) sedikitnya satu tanaman keras berkayu, setiap sistem agroforestri selalu mempunyai dua atau lebih hasil produksi, setiap siklus sistem agroforestri selalu lebih dari satu tahun, bahkan sistem agroforestri yang paling sederhana lebih kompleks, ekologis, dan ekonomis daripada sistem tunggal (P. K. R Nair, 1993).

Bagaimana upaya penanganan lahan kritis hutan Kesamben?

Hutan Kesamben merupakan salah satu potensi alam yang tergolong dalam lahan kritis, dalam penanggulangannya diperlukan suatu sistem yang bertujuan mengembalikan fungsi hutan tersebut yaitu sebagai hutan kemasyarakatan. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001 hutan kemasyarakatan adalah hutan negara yang sistem pengelolaannya bertujuan memberdayakan masyarakat setempat tanpa mengganggu fungsi pokoknya, dari kutipan tersebut sistem pengelolaan yang tepat bagi hutan Kesamben adalah menggunakan sistem agroforestri sederhana. Sistem agroforestri sederhana ialah sistem dengan menanami pepohonan dengan cara tumpang sari dengan satu atau lebih jenis tanaman, pepohonan sebagai pagar mengelilingi tanaman pangan secara acak atau dalam larikan (Aris Sudomo dkk, 2013).

Mengapa memilih model agroforestri jati (Tectona grandis) dengan cabai (Capsicum annum)?

Salah satu komponen utama agroforestri adalah pohon, maka dasar-dasar pemilihan jenis pohon untuk pembangunan hutan tanaman bisa menjadi salah satu acuan dalam pemilihan jenis tanaman berkayu dalam pola agroforestri. Jenis yang cocok bukan hanya tercermin dari segi pertumbuhan, nilai ekonomi dan kemampuan adaptasinya pada suatu lingkungan tertentu, tetapi kemampuannya membentuk struktur pertumbuhan yang ideal. Struktur pertumbuhan yang ideal dalam pola tanam agroforestri akan lebih kompleks karena melibatkan beberapa jenis tanaman baik tanaman kehutanan maupun komoditas pertanian yang akan saling berinteraksi (Aris Sudomo dkk, 2013).

Ditinjau dari segi kemampuan adaptasi tanaman cabai (Capsicum annum) dapat tumbuh pada tanah masam dengan pH empat sampai lima sedangkan pada tanah basa dengan pH delapan, tanaman ini sesuai untuk sistem tumpang sari dengan tanaman jati (Tectona grandis) yang akan tumbuh subur pada pH tanah optimum sekitar enam. Selain dari pH pertimbangan ekonomi merupakan faktor yang berhubungan dengan pilihan masyarakat terhadap praktik agroforestri, dengan sistem agroforestri sistem sederhana maka penanaman dilakukan dengan cara tumpang sari dimana melibatkan dua atau lebih jenis tanaman pada satu areal yang sama yaitu tanaman jati (Tectona grandis) yang merupakan tanaman dengan pemanenan berpola tahunan dan dipadukan oleh tanaman cabai (Capsicum annum) yang melakukan panen tanpa mengenal musim sehingga model tersebut dapat menekan resiko kerugian panen dan petani mendapat hasil jual yang saling menguntungkan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Perum Perhutani KPH Blitar cara agroforestri tersebut dapat mempekerjakan sedikitnya 550 petani yang dalam hal ini mampu mengurangi angka kemiskinan kabupaten Blitar yaitu sebanyak 166.354 jiwa. Tanaman cabai (Capsicum annum) merupakan tanaman yang ekonomis dari segi perawatan. Dalam praktiknya pemeliharaan dan perawatan cabai (Capsicum annum) mudah karena nutrisi dipenuhi secara organik menggunakan pupuk kompos dan pupuk organik cair. Daun dari pohon jati (Tectona grandis) yang gugur pada saat musim kemarau akan terurai oleh dekomposer yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai kompos. Tanaman cabai (Capsicum annum) hanya menggunakan pestisida apabila terserang hama atau penyakit.

Teknik agroforestri sederhana ini mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Blitar dan selain itu juga mengembalikan fungsi asli dari hutan rakyat itu sendiri. Teknik ini lebih efektif dan efisien untuk mengoptimalkan eksploitasi hutan rakyat kabupaten Blitar khususnya wilayah Kesamben. Dengan demikian, hutan rakyat dapat mengatasi masalah masyarakat dalam berbagai sektor dan menyadarkan masyarakat akan fungsi hutan dan pentingnya menanggulangi hutan kritis di Indonesia.

 

REFERENSI

 

Budiadi. 2013. Status Riset Agroforestri di Indonesia. Balai Penelitian Teknologi Agroforestry. Ciamis, Pamalayan.

 

Nair, Ramachandra. 1993. an Introduction to Agroforestry. Belanda: kluwer academic publisher.

 

Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 50 tentang Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi. 2002. JDIH Biro hukum Setda Provinsi Jawa Timur.

 

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah. 2005. Tentang Kondisi, Analisis, dan Prediksi Kondisi Umum Kehutanan Kabupaten Blitar. Blitar:RPJPD.

 

Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001tentang Hutan Kemasyarakatan.

 

Wicaksono, Sidik. 2007. Analisis Agroforestri di RPH Sekaran BKPH Lodoyo Barat KPH Blitar Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Blitar: RPH Sekaran BKPH Lodoyo.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s