TUGAS BAHASA INDONESIA MENGANALISIS FILM

  Judul Film : Di Bawah Lindungan Ka’bah

Sutradara   : Hanny R. Saputra

    A.    SINOPSIS FILM

Padang, 1922. Hamid adalah seorang anak yatim dan miskin. Hamid merupakan anak angkat dari saudagar yang kaya raya bernama Haji Jafar. Sementara Hamid diangkat menjadi anak, amaknya sendiri di perbolehkan untuk bekerja di kediaman Haji Jafar. Perhatian Haji Jafar dan istrinya, Asiah, terhadap Hamid sangat baik. Hamid dianggap sebagai anak mereka sendiri. Mereka sangat menyayanginya, sebab Hamid sangat cerdas, rajin, sopan, berbudi pekerti yang baik, serta taat beragama. Dengan pertemuannya dengan Engku Haji Jafar dan Ibu Asiah, berawalah persahabatannya dengan Zaenab, anak kandung Haji Jafar. Hamid juga disekolahkan bersama-sama dengan Zaenab, di sekolah rendah.

Saat beranjak dewasa Hamid memiliki perasaan terhadap Zaenab. Begitu pula dengan Zaenab, ternyata ia juga mempuanyai perasaan yang sama seperti perasaan Hamid. Perasaan tersebut hanya mereka pendam di dalam lubuk hati yang paling dalam. Hamid tidak berani mengutarakan isi hatinya kepada Zaenab, sebab dia menyadari bahwa di antara mereka terdapat dinding pemisah yang sangat tinggi. Zaenab merupakan anak orang terkaya dan terpandang, sedangkan dia hanyalah berasal dari keluarga biasa dan miskin. Jadi, sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk memiliki Zaenab. Itulah sebabnya, rasa cintanya yang dalam terhadap Zainab hanya dipendamnya saja.

Suatu hari mereka sedang bermain di pesisir pantai dekat rumah Zaenab. Di sana mereka bercanda riang. Disana pulalah Zaenab memulai pertanyaan diantara mereka berdua “Abang Hamid, apa impian terbesar abang di dunia ini?” lalu Hamid menjawab dengan terbata-bata, “Ka ka ka lau aku……. Tentu saja semua orang Islam ingin pergi Haji!”. Sebuah jawaban yang tak disangka Zaenab akan keluar dari mulut Hamid, lalu Hamid pun bertanya kembali “Kalau kau sendiri Zaenab” dan Zaenab pun menjawab dengan yakin “Kalau aku, aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku juga”. Hamid terkejut dengan jawaban Zaenab tersebut.

Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Suatu malam kemenakan Engku Rustam pun datang, lelaki itu bernama Arifin, ialah orang yang akan dijodohkan dengan Zaenab nanti. Di tempat yang sama Hamid pun juga berada di rumah Zaenab. Hamid hanya diam melihat lelaki yang kelak akan menjadi istri Zaenab.

Suatu hari Hamid mengikuti lomba cerdas cermat di surau dekat rumahnya, Zaenab pun begitu bersemangat untuk melihat Hamid saat perlombaan tersebut. Ia bersama temannya segera bergegas menuju ke Surau bersama Rosana dengan mengendarai sepeda. Karena kurang hati-hati Zaenab pun jatuh ke sungai dekat Surau, Hamid pun bergegas menolong Zaenab dengan memberikan nafas buatan padanya. Namun, maksud baik Hamid dipandang tidak baik oleh tetua adat serta masyarakat setempat. Bagi masyarakat setempat memberikan napfas buatan dianggap telah menyentuh seorang gadis, hal ini membuat Hamid diadili oleh tetua adat setempat. Sesampainya di rumah ibu Hamid menuturinya bahwa tidak mungkin orang miskin akan berjodoh dengan orang kaya.

Dinding pemisah itu semakin hari semakin dirasakan Hamid. Hamid mengalami peristiwa yang sangat memilukan hatinya. Haji Jafar, ayah angkatnya yang sangat berjasa menolong hidupnya meninggal. Tidak lama kemudian, ibu kandungnya pun meninggal dunia. Betapa pilu hatinya ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat dicintainya itu. Hamid merasa tidak punya semangat lagi untuk hidup. Kini dia yatim piatu yang miskin. Sejak kematian ayah angkatnya, Hamid merasa tidak bebas menemui Zaenab karena Zaenab dipingit oleh mamaknya.

Puncak kesedihan hatinya yaitu ketika mamak angkatnya, Asiah, menyuruh Hamid untuk datang ke rumahnya, lalu mengatakan bahwa Zaenab akan jadi dijodohkan dengan Arifin, yang masih keluarga dekat dengan almarhum suaminya. Bahkan, Mak Asiah meminta Hamid untuk membujuk Zaenab agar mau menerima pemuda pilihannya. Saat itulah hati Hamid terasa sangat remuk dan hancur berkeping-keping.

Dengan berat hati, Hamid menuruti kehendak Mamak Asiah. Hamid segera membujuk Zaenab untuk menuruti kehendak amaknya tersebut. Zaenab sangat sedih menerima kenyataan tersebut. Dalam hatinya, ia menolak kehendak mamaknya. Karena tidak sanggup menanggung beban hatinya, karena ia sangat mencintai dan menyayangi Hamid. Akhirnya Hamid memutuskan untuk pergi meninggalkan kampungnya. Mendengar kepergian Hamid, Zaenab bergegas pergi ke stasiun untuk melihat kekasihnya yang hendak pergi, alangkah terpukulnya Zaenab dan ia berjanji akan menunggu kekasihnya pulang kembali. Hamid meninggalkan Zaenab dan dengan diam-diam pergi ke Medan. Sesampainya di Medan, dia menulis surat kepada Zaenab. Dalam suratnya, dia mencurahkan isi hatinya kepada Zaenab. Dari Medan, Hamid melanjutkan perjalanan menuju ke Singapura, Bangkok, Irak dan kemudian sampailah dia tanah suci Mekkah.

Selama ditinggalkan oleh Hamid, hati Zaenab menjadi sangat tersiksa. Dia sering sakit-sakitan, semangat hidupnya terasa berkurang menahan rasa rindunya yang mendalam pada Hamid. Begitu pula dengan Hamid, dia selalu gelisah. Dia pun bekerja pada sebuah penginapan milik seorang Syekh. Sambil bekerja, dia terus memperdalam ilmu agamanya dengan tekun.

Setahun sudah Hamid berada di Mekah. Ketika musim haji, banyak tamu menginap di tempat dia bekerja. Di antara para tamu yang hendak menunaikan ibadah haji, dia melihat Saleh, teman sekampungnya. Betapa gembira hati Hamid bertemu dengannya. Selain sebagai teman sepermainannya semasa kecil, istri Saleh Rosana adalah teman dekat Zaenab. Dari Saleh, dia mendapat banyak berita tentang kampungnya termasuk keadaan Zaenab.

Walau dalam keadaan sakit parah, Hamid tetap berwukuf. Namun setelah wukuf di Padang Arafah yang sangat panas, kondisinya semakin melemah. Nafsu makannya menurun dan suhu badannya pun tinggi. Melihat keadaan sahabatnya, Saleh tidak sanggup memberitahukan kabar tentang Zaenab yang baru saja ia terima dari Rosna. Atas desakan Hamid, Saleh memberikan surat terakhir Zaenab untuknya sekaligus memberitahukan bahwa Zaenab telah meninggal dunia. Hati Hamid terpukul mendengar kenyataan tersebut. Hanya dengan keimanan yang kuat, dia masih mampu bertahan hidup.

Keesokan harinya, Hamid tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Mina. Namun, dalam perjalanannya, dia jatuh lunglai, sehingga Saleh memapah Hamid. Sambil menjulurkan tangannya memegang kain Kiswah penutup Ka’bah itu, Hamid lalu berkata, “Ya rabbi, ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahwasanya di bawah lindungan Ka’bah, Rumah Engkau yang suci terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon karunia……” Suaranya semakin melemah kemudian di bibirnya muncul suatu senyuman. Hamid telah meninggalkan dunia di hadapan Kabah, menyusul sang kekasih.

  1. B.     TEMA

Film ini bertemakan tentang kisah cinta yang terhalang karena perbedaan kelas sosial.

  1. C.    ALUR

Novel ini mempunyai alur maju mundur.

Tahapan alur :

  1. PENGENALAN

Pada tahun 1922 Hamid pulang ke Padang menaiki kereta api, kemudian diceritakan beberapa tahun sebelumnya ketika ia masih bersekolah di Padang dan menceritakan bagaimana ia bisa menjadi lulusan terbaik di sekolahnya.

  1. KONFLIK AWAL

Mamak Hamid memperingatkan Hamid bahwa tidak usah berharap banyak pada Zaenab. Hal ini ditunjukkan melalui perkataan mamak, “Jangan berharap lebih, makin tinggi harapan makin sakit jatuhnya. Jangan turunkan perasaanmu itu Hamid! Sampai kapan pun emas tak setara dengan loyang, dan sutera tidak sebangsa dengan benang.”

  1. 3.      KLIMAKS

Ayah angkat Hamid beserta mamaknya meninggal. Kemudian Zaenab telah dijodohkan oleh Afirin, keluarga dekat dari Haji Jafar. Setelah kejadian pada pada hari itu, Hamid memutuskan untuk meninggalkan kota Padang. Zaenab pun menjadi sakit-sakitan. Setelah dari Medan Hamid menuju ke Singapura, selanjutnya ke Tanah Suci Mekah.

  1. 4.      PENURUNAN KLIMAKS

Kehadiran Saleh memberikan informasi kepada Hamid tentang keadan di kampungnya dan tentang Zaenab. Tentu ini semua membuat bahagia Hamid. Saleh juga memberi tahu bahwa Zainab mencintai Hamid, Saleh tau hal tersebut dari istrinya yaitu Rosna yang kebetulan Rosna adalah teman sepermainannya Zaenab.

  1. 5.      PENYELESAIAN

Hamid melakukan ibadah haji bersama dengan Saleh, kawannya. Saleh memberikan sepucuk surat terakhir Zaenab kepada Hamid. Hamid terpukul mengetahui kekasihnya telah meninggal. Di depan Ka’bah Hamid lalu berkata, “Ya rabbi, ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahwasanya di bawah lindungan Ka’bah, Rumah Engkau yang suci terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon karunia…..” Setelah itu Hamid pun meninggal menyusul kekasihnya, Zaenab.

 

C. SETTING/LATAR

1. .Latar Tempat
a. Di Padang

b. Di stasiun

c. Di rumah Zaenab

d. Di pasar
e. Di rumah Hamid

f. Di belakang rumah Hamid dan Zaenab yang terhalang oleh pagar

g. Di pesisir pantai

h. Di Surau

i. Di kuburan

j. Di Mekah

 

2. Latar Waktu

a. Tahun 1919

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini:

1) Saat alur mundur tertera tulisan “Padang, 1919”

b. Tahun 1922

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini:

1)      Awal film tertera tulisan kota dan tahun “Padang, 1922”

c. Hari Raya Idul Fitri

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini:

1)      Hamid dan ibunya bersilaturahmi dengan keluarga Zaenab

d. Tahun 1927

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini:

1)      Tertera pada film tulisan “Padang, 1927”

e. Malam hari

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini:

1)      Beberapa peristiwa terjadi pada malam hari, yaitu Hamid dan Zaenab bercekap-cakap di belakang rumah yang terhalang oleh pagar; malam hari ketika di Surau; Hamid diadili di Surau; Mak Asiah meminta Hamid untuk membujuk Zaenab agar mau dijodohkan dengan Arifin.

f. Pagi hari

Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini:

1)      Beberapa peristiwa terjadi pada pagi hari, yaitu Hamid tiba di Padang setelah mennyelesaikan sekolahnya; Hamid bertamu di rumah Zaenab; Hamid bermain hujan-hujanan dengan Zaenab ketika berada di pasar; Hamid dan Zaenab bermain di pesisir pantai; Hamid dan Mamaknya bersilaturahmi ke rumah Zaenab saat Idul Fitri; Zaenab jatuh ke sungai; Engkuh Jafar meninggal; Hamid merantau; Mamak Hamid meninggal; Hamid berada di Mekah.

3. Latar Suasana
a. Suasana sedih

1) Ketika Hamid diadili oleh tetua adat Zaenab menangis ingin menyusul kekasihnya

2) Suasana sedih karena kematian Engkuh Jafar dan Mamaknya

3) Suasana sedih ketika Hamid membujuk hati Zaenab supaya mau ditunangankan

4) Ketika Hamid berangkat ke stasiun untuk merantau Zaenab yang sedang sakit menyusul kekasihnya sambil menangis

5) Suasana sedih ketika Hamid mengetahui bahwa Zaenab telah meninggal, ia menangis tak henti-hentinya di hadapan Ka’bah

6) Ketika Hamid meninggal di hadapan Ka’bah, Saleh sahabatnya menangis sambil merangkul jenazah Hamid

b. Suasana Bahagia

1) Suasana bahagia ketika Hamid dapat pulang ke Padang. Saat perjalanan menuju Padang dengan menaiki kereta api Hamid tersenyum sambil memandangi foto Zaenab.

2)      Hamid dan Zaenab tertawa lepas ketika sedang bercanda di belakang rumah mereka masing-masing yang terhalang oleh pagar.

3)      Hamid dan Zaenab bertemu di pasar dan mereka basah kuyub kehujanan

 

 

4. PENOKOHAN

A) Hamid : Tabah, sabar, tegar, alim,  badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, suka bermenung seorang diri.

Kutipan :

  1. “Sebenarnya saya sudah terpikir Engkuh, saya ingin melanjutkan ke Tawalib saya ingin memperdalam pemahaman agama saya” (Menunjukkan sifat alim)
  2. Ketika diadili di Surau Hamid berkata, “Jadi apapun keputusan para tetua akan saya laksanakan, ikhlas demi tegaknya agama.” Mengatakan tampak dengan tenang dan tetap dengan senyuman. (Menunjukkan tabah, sabar, tegar)

B) Zaenab : Seorang gadis yang baik, tidak membeda-bedakan status sosial, keras kepala punya kemauan yang tinggi dan tidak mudah putus asa

Kutipan :

  1. Zaenab menyukai Hamid yang hanya anak orang miskin
  2. Ia hanya mau menikah dengan orang yang dicintainya
  3. Zaenab segera menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan ayahnya demi melihat Hamid kekasihnya yang sedang lomba di Surau

C) Haji Jafar : Baik hati, dermawan, bijaksana.

Kutipan :

  1. “Terimakasih banyak Engkuh, karena kebaikan Engkuh saya bisa sekolah sampai sekolah menengah.” Hamid berterimakasih pada haji Jafar karena ia telah disekolahkan. (Menunjukkan baik hati, dermawan)
  2. “Sebagai seorang ayah tidak mungkin bisa bersama Zaenab sepanjang hari dan malam tapi saya percaya bahwa Zaenab tahu bagaimana menjaga sopan santun.” (Menunjukkan bijaksana)

D) Mak Asiah : Dermawan, rendah hati, terlau berpegah teguh pada adat sehingga ia terpaksa berbohong, tidak mengerti perasaan orang lain

Kutipan :

  1. Mak Asiah memperbolehkan keluarga Hamid bersilaturahmi ke rumahnya meskipun keluarga Hamid adalah orang miskin
  2. “Hamid Mak minta kau kemari karena Mak minta tolong bantulah melunakkan hati Zaenab bujuklah dia supaya mau menikah”

E) Ibu : pemarah, putus asa, penyabar, penyayang.

Kutipan :

  1. “Jangan berharap lebih, makin tinggi harapan makin sakit jatuhnya. Jangan turunkan perasaanmu itu Hamid! Sampai kapan pun emas tak setara dengan loyang, dan sutera tidak sebangsa dengan benang.” Tampak wajah marah. (Menunjukkan putus asa dan pemarah)
  2. “Inilah hasil kerja emak selama bertahun-tahun di rumah Engkuh Jafar lalu emak belikan emas, emak simpanlah. Ambilah Mid!…” Menyerahkan segala yang dimilikinya demi sang anak. (Menunjukkan penyayang)
  3. Menemani Hamid selama ia diadili di Surau oleh tetua adat. (Menunjukkan penyayang dan sabar)

F)     Saleh : Setia kawan.

Kutipan :

  1. Menjemput Hamid kawan lamanya di stasiun atas permintaan Zaenab yang juga sahabatnya
  2. Mengantar dan menemani Hamid pergi ke Surau saat hendak diadili oleh tetua adat
  3. Peduli dengan keluarga Hamid, dengan ia memberi tahu Hamid bahwa emaknya sedang sakit. “Emakmu Mid, Emakmu sakit!”
  4. Menemani Hamid yang sedang sakit untuk melakukan ibadah haji
  5. Menemani hingga Hamid meninggal di hadapan Ka’bah, merangkul jenazahnya sambil menangis dan berteriak memanggil-manggil nama Hamid.

G)   Rosna : Setia dan teguh hati.

Kutipan :

  1. Rosna setia menunggu Saleh yang pergi ke Mekah
  2. Rosna selalu mendampingi sahabatnya yaitu Zaenab saat Zaenab sakit-sakitan hingga meninggal
  3. “Tidak usah repot-repot lah Leh! Yang penting kau pulang dengan selamat”

H)    Arifin : Pintar, sombong.

Kutipan :

  1. Tersenyum puas saat Hamid diberi hukuman oleh tetua adat
  2. Percakapan antara Hamid dan Emak Asiah, “Lihatlah Mid dia (Arifin) menulis di Koran. Sudah hebat dia (Arifin) sekarang!”

 

5. GAYA BAHASA

a. Gaya bahasa personifikasi
…Jangan kau turunkan perasaanmu itu Hamid!
b. Gaya bahasa repetisi
…Sampai kapan pun emas tak setara dengan loyang, dan sutera tidak sebangsa dengan benang.

 

6. AMANAT

Segala sesuatu membutuhkan pengorbanan. Kita sebagai manusia boleh berencana, berharap dan berusaha semaksimal mungkin, namun Allah jugalah yang menentukan semua itu.

 

UNSUR EKSTRINSIK

A) NILAI AGAMA

“…Sebenarnya saya sudah terpikir Engkuh, saya ingin melanjutkan ke Tawalib saya ingin memperdalam pemahaman agama saya.”

 

C) NILAI MORAL

“ …maka pada dirinya saya dapati beberapa sifat yang tinggi dan terpuji, yang agaknya tidak terdapat pada pemuda-pamuda yang lain baik dari kalangan kaya dan bangsawan sekalipun. Sampai pada saat yang paling akhir daripada kehidupan ayahku, belum pernah ia menunjukkan Perangai yang tercela. Wahai Ros saya tertarik benar kepadanya”

 

D) NILAI SOSIAL

Kemiskinan telah menjadikan seorang ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s