Cerpen

Titik!

          Pernah seseorang berkata padaku dan pada kawan-kawan ketika di ruang kelas, penyakit itu timbul pada diri kita 96% dikarenakan pikiran dan 4% lainnya karena makanan dan lain-lain. Aku setuju dengan perkataan itu, pasalnya saat ini aku memang mengalaminya. Aku dibuat sakit baik batin maupun fisik karena suatu hal. Terasa diri ini seperti orang gila yang melamun sendiri, tiba-tiba menangis, lalu terdiam dalam lamunan hingga beberapa waktu. Batinku terasa terguncang, tubuh ini juga bergejolak sudah tiga hari aku menahan sakit di perutku ini, belum lagi ditambah pusing serta mual yang sering menghampiri seakan menandakan bahwa aku memang benar-benar jijik dan muak dengan kegiatan itu. Aku masih seorang pelajar, dari kecil aku memang aktif dalam berbagai kegiatan. Bukan sekolah ala militer, sekolah biasa dengan embel-embel “sekolah negeri”, tapi kali ini sudah memuncak amarahku dengan embel-embel seperti itu mereka “yang mulia” yang disebut-sebut sebagai “pemimpin” selalu saja memberikan sentuhan-sentuhan yang menggila.

          Aku tidak suka dengan kegiatan macam itu, mereka-mereka saja yang berperan menjadi sutradara sekaligus aktor dari acara-acaranya, sedangkan yang lain termasuk aku hanya menjadi pemain di belakang panggung yang hanya menjadi bahan teriakan mereka. Membuat orang menjadi pemimpin itu tidak harus dengan menggunakan cara macam itu, dengan selalu menyelipkan adegan “perploncoan” ala-ala OSPEK kuliahan dengan penuh dramatis. Disiplin tak perlu muluk-muluk, disiplin akan datang pada diri kita masing-masing sesuai dengan kesadaran kita. Bukan dengan paksaan dengan olok-olokan atau dengan kekerasan.

          Hari ini aku berdiri tegap dengan mendengarkan ocehan-ocehan mereka, dengan mata membelalak seolah-olah antusias mendengarkan cuap-cuapnya. Padahal di dalam hati aku selalu mengumpat dan menjawab apa yang dikatakan oleh mereka. “Kami akan tanggung jawab dengan kegiatan ini, jadi….” Bla… bla… bla… selanjutnya aku tak begitu memperhatikan apa yang diutarakan oleh mereka. Aku menjawabnya dalam hati, ya tentu dan harus wajib bertanggung jawab kalau tidak ya tidak usah membuat acara itu untuk kami. Mataku semakin mantap menatapi mata mereka yang terus bergantian berbicara, “Saya sekarang sungguh-sungguh, saya paling tidak suka dengan orang yang sakit dalam kegiatan saya dalam tanda kutip sakit itu nyakit!” Hingga suatu saat aku benar-benar naik pitam, mata ini terus mengikuti gerak gerik matanya tangan mengepal tak kuat mendengar ia berbicara. Dengan logat Jawa yang medhok kata-kata itu muncul dari mulutnya, “Tak bunuh kalian nanti!” entah apa yang membuatnya mengeluarkan dari kata-kata itu, dia juga termasuk “pimimpin” pada era ini, ya hampir selesai masa jabatannya. Apa itu layak keluar dari mulut seorang “pemimpin”? Seorang anak SMA yang belum genap dengan usia 19 tahun berani mengucapkan kata-kata itu? Mungkin dia pikir kami ini binatang jalang, jika tak menuruti perintah tuannya akan dihabisi! Tidak rasional!

          Aku sungguh-sungguh benci dengan itu. Aku mungkin berbeda dengan beberapa anak yang lain, selalu berontak jika tak sesuai. Aku akan semakin menjadi-jadi jika ada orang yang berlaku keras padaku. Jalur apa pun cara apa pun akan ku cari, aku sudah bulat dengan tekadku. Lebih-lebih jika usianya masih sepantaran denganku, tidak ikhlas hati ini jika harus dijadikan bulan-bulanan oleh mereka. Jujur aku lebih ikhlas dan rela jika bukan mereka yang menjadi dalangnya tetapi mereka yang memang mengerti dan mahir betul dengan apa itu hukum sebab akibat. Titik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s