CERPEN

Lelaki Batu Bara

       Aku biasa memanggilnya Bapak, sosok lelaki bersahaja sebagai kepala keluarga. Mengajarkan hal-hal baik setiap harinya. Kurang lebih sudah dua tahun beliau merantau ke Borneo, pulau terbesar di Indonesia. Sudah dua tahun pula beliau jadi sopir alat berat di pertambangan. Aku salut dengan kegigihannya. Di usianya yang berkepala empat tentu tidak muda lagi jika harus bekerja demikian. Sebenarnya tak tega hati ini jika melihatnya bolak-balik Jawa-Borneo demi mencukupi kebutuhan keluaraga, lebih-lebih dua tahun lagi aku masuk perguruan tinggi. Tentu tidak sedikit biaya yang dibutuhkan.

Tiap pagi aku dibangunkan olehnya, lewat pesan singkat yang dikirimnya ke handphoneku masih dengan kalimat yag sama dengan hari-hari sebelumnya “Ayo bangun mbak, sudah siang siap-siap untuk berangkat sekolah. Semangat ya!” Kalimat itu muncul di pagi hari dan akan memenuhi inbox handphoneku. Tiga bulan sekali Bapak pulang dari perantauan, tiga bulan sekali pula aku melihat semangat yang terpancar dari wajahnya yang tampak makin hitam terkena sengatan matahari. Dengan tas ransel di pundaknya, dengan langkah tegapnya ia membuka pagar dan segera memeluk keluarga di rumah. Sambutan hangat tak henti-hentinya kami utarakan.

Sebelumnya nasib Bapak tak seberuntung sekarang. Awal di perantauan ia hanya numpang di rumah salah satu keluargaku yang tinggal di sana. Sampai akhirnya beliau mendapatkan pekerjaan dari kawan Bulikku. Sopir pengangkut kelapa sawit, twntu bukan pekerjaan yang layak untuk seorang Sarjana Hukum. Gaji yang tak setimpal dengan keringat yang mengucur di kening Bapak. Seperti kerja romusha di jaman Jepang, tak tahu waktu. Makanan pun tak layak untuk dikonsumsi manusia. Sepiring nasi dengan lauk ikan asin ditemani cabai goreng itulah santapan sehari-harinya. Dari jauh aku hanya bisa diam dengan hati yang nanar, di sana ia jauh dari keluarga, jauh dari kesan mewah, sangat-sangat sederhana. Tangisan sendu pun terdengar dari Ibuku, selau terisak ketika mendapat telepon dari Bapak. Enam bulan ia tak pulang, rasanya seperti enam ribu tahun ia tak menjenguk keluarga.

Hari-hari terus berganti, kabar baik pun menghampiri Bapak. Ia dipanggil sebuah perusahaan batu bara, dimana kata orang kalau bisa mendapatkan pekerjaan itu ia akan sukses. Ia lalu memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebelumnya. Untuk pertama kali ia pulang ke tanah kelahirannya, tanah Jawa. Sekarang beliau sudah berubah dari pengangkut kelapa sawit menjadi manusia batu bara yang hitam legam dan berharga. Semangatnya yang begitu besar dapat mengalahkan segalanya dan belum tentu bisa dimiliki oleh orang lain. Bapaklah salah satu sumber inspirasiku, beliaulah yang memotivasiku bahwa jika kita menginginkan sesuatu yakinlah bahwa kita bisa menggapainya. Ya, asalkan ada niat dan semangat. mulai detik ini aku menyebutnya lelaki batu bara.

One thought on “CERPEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s