Raema 3

Kantin Pemadam Kelaparan

Jam menunjukkan pukul 09.45. Lonceng sekolah berbunyi seolah ini adalah tanda yang menunjukkan bahwa murid-murid harus “mengisi bensin” karena sudah jenuh untuk menyerap pelajaran-pelajaran sejak pagi dan ini waktu yang tepat bagi Raema untuk menenangkan cacing-cacing di perutnya yang mulai bergejolak. Disinilah, di ruang “sempit” berukuran empat kali empat meter dengan berjubel manusia yang merebutkan sepiring nasi di dalamnya.

Mata Raema terpaku melihat dia. Sambil menghabiskan makanannya Raema merenung “Rasa itu seperti hujan yang munculnya tiba-tiba, menyebabkan kebingungan” Raema mulai bertanya-tanya siapakah sebenarnya dia itu? Tanpa berlama-lama kawan-kawan sepermainannya menggodai dengan celoteh-celotehan bak burung kenari, sontak wajah Raema menjadi kerah merona tersipu malu. Terlihat di benak anak gadis yang beranjak dewasa itu mulai menyukai lawan jenisnya.

Denting jam seakan berteriak mengisyaratkan para siswa ini untuk kembali “menuntut ilmu“. Hari-hari berikutnya rasa penasaran si Raema semakin menjadi-jadi hingga selalu ingin pergi ke tempat itu.  Tak dipungkiri Raema akhirnya bertanya pada teman sekelasnya “yang kemarin itu siapa? Kakak kelas?” tutur temannya “Yang mana? Cowok? oh anak kelas XI, ya XI IPA” Dengan tampang polosnya Raema hanya membalas “Oh…”

Di rumah Raema membuka buku kecil berwarna merah jambu, lalu ia mulai menggoreskan tinta penanya. Di sudut kantin itu aku melihatmu. Hanya sekedar melirik. Walau hanya sekejap, yah melirik itu wajarkan? jadi tak ada salahnya aku melirik bahkan memandangmu setiap saat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s